Museum Bronbeek di Arnhem, Belanda, Januari 2008 silam mengetengahkan Tanah Batak sebagai tema utama. Pemimpin gerilya dan raja Batak terakhir Si Singamangaradja XII tewas di tangan Tentara Hindia Belanda pada tahun 1907. Hans van den Akker, konservator Museum Bronbeek, sempat berbincang dengan Sitor Situmorang mengenai kejadian-kejadian historis mengenaskan di awal abad ke-20.

Penyair Sitor Situmorang (85) menjelaskan secara detail – tanpa kenal lelah – peristiwa di sekitar tahun 1907 melalui perspektif tradisi Batak. Kematian tragis Si Singamangaradja XII menyebabkan ‘perpecahan’ budaya Batak Toba setelah wilayah tersebut sepenuhnya jatuh di bawah kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Musim panas 2007 lalu, Situmorang berkeliling di Sumatera Utara dan menjadi tamu kehormatan acara peringatan 100 tahun wafatnya Si Singamangaradja XII.

Sitor Situmorang dilahirkan di Harianboho, 2 Oktober 1924. Desa ini terletak di kaki gunung Pusuk Buhit yang dianggap magis dan sakral di Tanah Batak. Sitor cilik sudah biasa mendengar sajak dan cerita-cerita heroik mengenai kakek moyangnya. Salah satu cerita tersebut yang paling terkenal adalah Si Singamangaradja. Ompu Babiat, ayah Sitor, masih berkerabat dengan Si Singamangaradja dan dikenal sebagai salah seorang pemimpin pasukan Si Singamangaradja.

Kehidupan tribal masyarakat Batak Toba

Ompu Babiat adalah ipar Sisingamangaraja XII. Tradisi waktu itu menyebut, keturunan Si Singamangaradja dari Bakkara (pesisir selatan Danau Toba) biasa menikahkan putri mereka dengan marga Situmorang di Lintong (pesisir barat Danau Toba). Di awal abad ke-20, penduduk Batak Toba hidup berkelompok dan membentuk marga-marga otonom. Setiap daerah diorganisasi secara teratur tidak jauh dari sumber air. Bius atau sistem irigasi menjadi basis pembagian otonomi.

Setiap kawasan atau clan otonom tersebut memiliki raja. Si Singamangaradja adalah pemimpin (religius) yang paling disegani saat itu. Si Singamangaradja XII menjadi tokoh sentral setelah naik tahta di usia remaja. Ia menggantikan Si Singamangaradja XI yang tutup usia akibat epidemi kolera. Di tahun 1883 terjadi konfrontasi antara Tanah Batak dengan kekuasaan kolonial yang sudah lama bercokol di Aceh. Bentrokan ini berlangsung di selatan Danau Toba di sekitar Balige.

Si Singamangaradja terluka di lengannya dan lari bersembunyi ke dalam hutan. Langit berubah hitam kelam. Gunung Krakatau sedang meletus saat itu. Pelariannya berakhir di Lintong. Boru Situmorang, ibunda Sisingamangaraja, berasal dari daerah ini. Popularitas Sisingamangaraja melesat sejak kejadian tersebut. Apalagi, perang di areal terbuka ini sering disebut tidak berimbang. Tentara Hindia Belanda dianggap secara taktis dan teknis lebih superior.

Mulai saat itu, masyarakat Batak Toba mempunyai satu musuh utama, Tentara Hindia Belanda, dan seorang pemimpin, Si Singamangaradja XII. Pada tahun 1889, gerakan kontra gerilya Si Singamangaradja dan tentaranya berpusat di Pea Raja. Rakyatnya hidup cukup aman dan tentram. Sementara itu, Tentara Belanda di Aceh membentuk korps elit untuk melawan aksi militan. Korps revolusioner ini merupakan ide J.B. Heutsz dan islamolog C. Snouk Hurgronje.

Tentara gerilya Aceh dan Batak diawasi oleh brigade beranggotakan maksimal 16 serdadu pribumi di bawah pimpinan komandan Eropa. Mereka dipersenjatai dengan karabin dan klewang. Brigade ini beroperasi amat cepat dan akurat. Posisi Aceh semakin terdesak dan perlawanan Aceh dapat dibendung oleh Tentara Hindia Belanda. Tanah Batak kembali menjadi incaran kolonialisme mulai tahun 1904. Tentara kolonial di bawah pimpinan Van Daalen mulai menyisir Gayo dan Alas.

Search-and-destroy lumpuhkan kontra gerilya

Tanah Batak yang mereka lewati dan diperkirakan membahayakan akan dibakar, dijarah dan dibunuh penduduknya. Raja Batak menjadi target terpenting serdadu-serdadu Belanda saat itu dan mereka mulai merambah Pea Raja. Akibatnya, Si Singamangaradja XII harus bersembunyi lebih dalam lagi ke hutan belantara bersama keluarga dan pengikutnya. “Mereka seperti main petak-umpet,” ujar Sitor Situmorang.

Salah satu letnan ekspedisi ini, Colijn, yang juga pernah menjabat Perdana Menteri Belanda menulis surat kepada istrinya dan menyatakan kekagumannya terhadap sosok Si Singamangaradja yang disucikan dan peninggalan berharganya yang dibiarkan begitu saja sewaktu bersembunyi ke dalam hutan.

Tentara Hindia Belanda di bawah pimpinan Hans Christoffel bersama empat brigade bertolak ke kawasan Batak Toba di bulan Maret 1907. Korps tersebut sebagian besar terdiri dari penduduk Jawa dan Ambon. Mereka ditugasi Christoffel untuk menangkap Sisingamangaraja XII, hidup atau mati.

Meskipun berperawakan kecil, Christoffel dikenal tegas, berani dan tidak mudah ditaklukkan. Selain itu, ia adalah penembak jitu dan berpengalaman melawan gerakan kontra gerilya. Tanpa membuang waktu, ia bersama satuan tentaranya segera menyusuri daerah pesisir barat Danau Toba dan pegunungan di Pusuk Buhit. Kondisi alam di pegunungan itu sukar, dipenuhi jurang dan bukit terjal.

Dalam waktu singkat, Christoffel berhasil mengumpulkan informasi mengenai tempat persembunyian Si Singamangaradja. Taktik search-and-destroy Christoffel berhasil menangkap Boru Situmorang dan beberapa anaknya. Namun, Si Singamangaradja belum dapat dicokok oleh Christoffel. Hingga 17 Juni 1907, salah satu brigade Christoffel bertatap muka langsung dengan Si Singamangaradja di dekat sebuah jurang.

“Ahu Singamangaradja!” teriaknya. (Akulah Singamangaradja). Menurut sebuah jurnal kolonial, pertumpahan darah tidak dapat dihindari dan Si Singamangaradja, bersama kedua putranya, harus kehilangan nyawa. Jenazah Si Singamangaradja diusung keliling desa supaya rakyat tahu raja mereka telah tiada.

Si Singamangaradja dimakamkan di sebuah garnisun di Tarutung. Belanda ingin menghindari tempat peristirahatan terakhir Si Singamangaradja menjadi semacam tujuan ziarah. Anak-anak Si Singamangaradja yang lain dibaptis oleh misionaris dari Rijn dan dikirim ke Jawa. Sejak saat itu, Tanah Batak menjadi bagian dunia ‘modern’.


HARIANBOHO

untuk Ayah dan Ibu

‘Ku yakin menemukan jalan selalu
kembali padamu,
jalan pulang ke lembahlandai
di tepi danau
sepanjang pantai

‘Ku yakin selalu padamu kembali
di akhir nanti,
saat kembara berakhir,
tiba sadar pada musafir.

Di ladang dan gerbang
negeri-negeri ramah, tapi asing.

namun penumpang jua.
Karena ketentuan masalalu,
tak dapat diulang
lahir sekali di pangkuanmu.

Ingatan jadi keyakinan terang
Di seberang aku berada
kau di telapak terbawa,

menanti di tiap langkah
batu-batu lembah semula.


Catatan:

Museum Bronbeek menggelar pameran De laatste Batakkoning (Raja Batak terakhir) 20 Januari hingga 20 Oktober 2008 lalu. Eksposisi ini juga dilengkapi ceramah, pergelaran tari, pemutaran film dokumenter mengenai Batak dan interview dengan Sitor Situmorang.

Sitor Situmorang dilahirkan di Harianboho, 2 Oktober 1924. Usia enam tahun, ia pergi ke Balige dan mulai menimba ilmu. Sekolah dasarnya ia selesaikan di Sibolga dan sekolah menengahnya di Tarutung.

“Kami menganggap pendidikan Belanda hal lumrah waktu itu,” ungkapnya. Masa pendudukan Jepang terpaksa menghentikan kegiatan akademisnya dan Sitor bergabung dengan harian Waspada di Medan. Tahun 1946 ia pindah ke Jakarta.

Sitor Situmorang termasuk sastrawan Angkatan ‘45. Ia banyak menulis esai mengenai Indonesia Baru dan perkembangannya di masa awal Republik Indonesia. Tahun 1953, setelah mengenyam pendidikan di Amsterdam dan Paris, kumpulan puisinya Surat Kertas Hijau diterbitkan. Selain itu, masih ada beberapa kumpulan sajak, cerita pendek dan naskah drama.

Publikasi  Esai Sastra Revolusioner di tahun 1965 di era Soeharto membuatnya harus mendekam delapan tahun di penjara – tanpa proses peradilan. Selanjutnya, terbit kumpulan puisi Waktu Dinding dan Peta Perjalanan.

Karya Sitor Situmorang tidak hanya kental dengan tradisi Batak yang kuat, tapi juga dipengaruhi sastrawan modern Belanda seperti Slauerhoff. Tema karyanya yang menonjol: cinta semu atau tak kekal, pengembaraan, serta siklus abadi kematian dan kehidupan.

Ia menjadi dosen tamu di Seksi Indonesia Universitas Leiden (1981-1990). Setelah pensiun, Sitor Situmorang sempat tinggal di Pakistan, Paris dan Jakarta. Ia dianugerahi ASEAN Write Award di tahun 2006. Ia bermukim di Belanda hingga saat ini.

Isa Alimusa – Amsterdam

>>Sumber dan ilustrasi: Majalah Moesson “Sitor Situmorang over de laatste koning aller Batak – De dag dat de hemel zwart werd” (Januari 2008)<<