Jakarta, Kominfo Newsroom — Setiap tahun ditemukan 100 kasus baru kanker nasofaring, kata onkolog dari Rumah Sakit Kanker Dharmais dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa (10/3), dan kebanyakan penderitanya keturunan China (Ras Mongoloid).

”D i RSCM tercatat setiap tahunnya muncul 100 kasus baru. Di Indonesia sebanyak 4,7 persen dari 100.000 penduduk menderita penyakit ini, dan lebih banyak diderita laki-laki ketimbang perempuan akibat bekerja pada tempat-tempat yang beresiko terkena polusi asap, sehingga memicu timbulnya virus Epstein Barr,” kata dr. Budianto Komari, SpTHT, onkolog RS Kanker Dharmais.

Penyakit yang disebabkan virus Epstein Barr ini banyak diderita ras Mongolid, yang di dunia menduduki urutan ke-4 dari seluruh keganasan setelah kanker rahim, payudara dan kulit.

Ia menjelaskan, konsumsi ikan asin juga makanan asin lain yang secara terus menerus dikonsumsi dalam jumlah yang banyak merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya kanker nasofaring yang terdiri atas tiga tipe, yakni BAO I, II dan III.

Selain ikan asin, mediator lain yang juga ikut menimbulkan kanker nasofaring adalah lingkungan dengan ventilasi yang kurang baik, pembakaran dupa, kontak dengan zat karsinogen seperti pada pekerja pabrik bahan kimia, ras, dan keturunan, serta radang kronis nasofaring.

Penyakit yang lebih banyak ditemui pada laki-laki ini, merupakan tumor ganas yang menyerang daerah kepala dan leher, yang kasusunya terbanyak ditemukan di Indonesia.

”Ikan asin merupakan mediator utama yang mengaktifkan virus Epsten Barr. Di Indonesia karena tingkat polusi udara yang tinggi, setiap orang dapat terinfeksi virus ini. Penderitanya antara usia 25-60 tahun dengan gejala umum yang tidak terdeteksi karena mirip seperti penyakit telinga hidung tenggorokan (THT) biasa. Kasus yang paling sering terjadi dengan tipe kanker BAO III,” ujarnya.

Menurutnya, kanker nasofaring tipe III ini jika ditemukan lebih dini, dengan mudah dapat disembuhkan karena lebih sensitif terhadap penyinaran dan kemoterapi, dan biasanya dinyatakan sembuh jika si penderita dapat bertahan (survive) selama 5 tahun.

Namun kelangsungan untuk sembuh juga ditentukan melalui cara pengobatannya, yakni melalui 30 kali penyinaran setiap hari, kemoterapi 6 kali dalam 1 setengah bulan, dan juga operasi.

”Sayangnya, sekitar 60-95 persen penderita kanker nasofaring datang pada stadium III-IV. Bila hal ini terjadi, terapi radiasi sebagai terapi pilihan lebih baik jika dikombinasi dengan kemoterapi,” tambahnya.

Sebagai tahap awal, biasanya dokter melakukan tanya jawab dengan pasien apakah terjadi keluhan pada hidung atau telinga yang ditandai dengan berkurangnya pendengaran. Setelah itu baru dilakukan pemeriksaan CT Scan Nasofaring. Sementara untuk kemoterapi dilakukan sebelum atau sesudah penyinaran atau dapat pula bersamaan tergantung dari kondisi ketahanan tubuh pasien.

”Biaya pengobatan kira-kira Rp15 juta, belum termasuk kemoterapi selam 6 kali dan juga obat-obatan. Setelah penyinaran (radiasi) juga kemoterapi biasanya timbul efek samping berupa mati rasa pada lidah, timbul sariawan juga mual,” tambahnya.

Nasofaring adalah daerah tersembunyi yang terletak di belakang hidung berbentuk kubus. Bagian depan nasofaring berbatasan dengan rongga hidung, bagian atas berbatasan dengan dasar tengkorak, serta bagian bawah merupakan langit-langit dan rongga mulut.

Virus Epstein-Barr adalah virus yang berperan penting dalam timbulnya kanker nasofaring. Virus yang hidup bebas di udara ini bisa masuk ke dalam tubuh dan tetap tinggal di nasofaring tanpa menimbulkan gejala. Dikatakan, nitrosamin yang merupakan salah satu metabolisme dalam ikan asin merupakan mediator dari virus Epstein-Barr tersebut.

Gejala kanker nasofaring biasanya tergantung pada derajat penyebaran dan lokasi tumbuhnya tumor. Gejala yang sering ditemukan adalah pembesaran kelenjar di bagian leher. Gejala tidak khas seperti hidung tersumbat, ingus, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, kelumpuhan pada otot mata, penglihatan ganda, kelumpuhan otot lidah juga merupakan gejala yang ditemui pada penderita kanker nasofaring.

Untuk itu menurut Budianto, mengkonsumsi makanan segar dan pola hidup sehat serta sedapat mungkin menghindari polusi udara, adalah langkah yang tepat guna menghindari penyakit tersebut. (T. Jul/ysoel)

sumber: www.endonesia.com