Lontong-Risol…… teriakan itu membelah pagi…Namanya Rita, usianya 16 tahun.

Namanya Rita, janda dua kali beranak satu. Kedua suaminya telah tiada, yang terakhir meninggal disaat kandungannya berusia dua bulan. Seseorang menabrak suaminya sampai mati, lalu kabur begitu saja. Mertuanyapun ikut pergi, tak sudi memelihara Rita dan anaknya. Mereka menilai, Rita adalah “si pembawa sial”. Namanya Rita, usianya 16 tahun. Ia adalah tulang punggung keluarga.

Ibunya yang renta menjadi pemotong rumput di pinggir tol. Ayahnya lumpuh tak mampu berbuat apa-apa. Ia harus menghidupi keluarganya, terutama Nurul Hikmah, anak yatim berusia 7 bulan. Jangan Anda bayangkan Nurul seperti bayi yang lain. Di usianya yang 7 bulan, badannya tak lebih besar dari putra saya yang berusia dua setengah bulan. Nurul lahir dengan berat 1,3 kg dan dengan kondisi hiperbillirubin. Ketika itu tangisnya tanpa airmata, bahkan tak ada suara. Hanya keajaiban Tuhan yang membuat Nurul tetap hidup hingga hari ini. Namanya Rita, usianya 16 tahun. Ketika kandungannya berusia lima bulan, ia menjadi buruh bangunan. Mengaduk semen dan pasir, menggotong batu bata kesana kemari. Itu terpaksa dilakukan karena kue dagangannya habis tersiram hujan deras dan angin kencang. Modal melayang; siapa sudi menolong wanita miskin ini, selain dirinya sendiri? Lontong-Risol…… teriakan itu membelah pagi… Setiap pagi Rita berjalan dari kontrakannya di belakang RS Internasional Bintaro menuju kompleks Puri Bintaro. Di sinilah ia menjajakan hasil kerjanya yang ia siapkan dari semalam; mengolah bahan hingga jam sebelas malam, dan mulai menggoreng jam tiga pagi buta. Jika tak habis di kompleks perumahan ini, ia akan terus berjalan, hingga stasiun kereta Sudimara. Berjalan kaki lebih dari 10 kilometer dengan beban baskom besar di kepala. Namanya Rita, usianya 16 tahun. Ia sering pingsan di tengah jalan. Rita bukan wanita yang sehat secara fisik. Kanker darah putih bernama Leukemia bersemayam dalam tubuhnya. Namanya Rita, usianya 16 tahun. Rita adalah sebuah cermin tentang harapan dalam hidup yang gamang. Tak ada keluh pahit dalam nada bicaranya. Tak ada duka dalam tatap matanya. Ia dengan ringan bercanda ketika kami meminta ia membawa ibu dan anaknya datang ke rumah. Namanya Rita, usianya 16 tahun.

Mungkin Allah mengirim Rita dalam hidup saya untuk mengingatkan saya pada ayat yang berulang-ulang disebut dalam Surat Ar Rahman; “Sesungguhnya nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan?”

oleh n0vri

Sumber: n0vri.wordpress.com